Minggu, 03 April 2011

MAKALAH TANAMAN KAKAO


AGROINDUSTRI KAKAO

Disusun oleh:

RAHMAYANTI









                                                                                                                 



 JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN POLITEKNIK INDONESIA-VENEZUELA
( POLIVEN )
BLANG BINTANG – ACEH BESAR
2011



DAFTAR ISI

Daftar isi............................................................................................................................       i
Pendahuluan...................................................................................................................       ii
Bab I Isi..............................................................................................................................       1
  I.      Agroindustri...............................................................................................................       1
II.      Pascapanen..............................................................................................................       2
III.      Pemasaran................................................................................................................       3

Penutup............................................................................................................................       6
      I.        Kesimpulan..........................................................................................................       6

Daftar Pustaka



PENDAHULUAN
Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.



BAB 1
ISI
AGROINDUSTRI
Proses Pengolahan Biji Kakao Menjadi Coklat
Sebelum membahas proses pengolahan biji kakao menjadi coklat, ada baiknya kita mengetahui standarisasi mutu biji kakao guna menghasilkan coklat yang berkualitas. Bagi industri makanan dan minuman cokelat, mutu biji kakao merupakan persyaratan mutlak. Dengan demikian, bagi produsen atau eksportir biji kakao mutu seharusnya menjadi perhatian agar posisi bersaing (bargaining position) menjadi lebih baik dan keuntungan dari harga jual menjadi optimal. Bagi pengusaha mutu berarti pemenuhan kepuasan kepada pelanggan tanpa banyak memerlukan tambahan biaya yang lebih tinggi. Dalam bisnis kakao, mutu mempunyai beberapa pengertian antara lain mutu, dalam pengertian sempit, sesuatu yang berkaitan dengan citarasa (flavor), sedang dalam pengertian yang luas, mutu meliputi beberapa aspek yang menentukan harga jual dan akseptabilitas dari suatu partai biji kakao oleh pembeli (konsumen). Persyaratan mutu ini diatur dalam standar perdagangan.
Persyaratan mutu yang diatur dalam syarat perdagangan meliputi karakteristik fisik dan pencemaran atau tingkat kebersihan. Selain itu, beberapa pembeli juga menghendaki uji organoleptik yang terkait dengan aroma dan citarasa sebagai persyaratan tambahan. Karakter fisik merupakan persyaratan paling utama karena menyangkut randemen lemak (yield) yang akan dinikmati oleh pembeli. Karakter fisik ini mudah diukur dengan tata-cara dan peralatan baku yang disepakati oleh institusi international. Dengan demikian pengawasan mutu berdasarkan sifat-sifat fisik ini dapat dengan mudah dikontrol oleh konsumen. Sebaliknya, persyaratan tambahan merupakan kesepakatan khusus antara eksportir dan konsumen (pembeli). Jika persyaratan ini dapat dipenuhi, maka eksportir akan mendapat harga jual biji kakao lebih tinggi (premium).

PASCA PANEN
n  Pengumpulan Buah Kakao
Buah kakao yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu dan dikelompokkan menurut kelas kematangan.
n  Fermentase
Tujuan dari fermentasi adalah untuk mematikan lembaga biji agar tidak tumbuh sehingga perubahan-perubahan di dalam biji kakao akan mudah terjadi, seperti warna keping biji, peningkatan aroma dan rasa, perbaikan konsistensi keping biji, dan untuk melepaskan pulp. 
n  Perendaman dan Pencucian
Perendaman berpengaruh terhadap proses pengeringan dan rendemen. Selama proses perendaman berlangsung, sebagian kulit biji kakao terlarut sehingga kulitnya lebih tipis dan rendemennya berkurang.
n  Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air biji dari 60 % sampai pada kondisi kadar air dalam biji tidak dapat menurunkan kualitas biji dan biji tidak ditumbuhi cendawan.
n  Penyortiran / Pengelompokan
Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya:
a) Mutu A : dalam 100 g biji terdapat 90 – 100 butir biji
b) Mutu B : dalam 100 g biji terdapat 100 – 110 butir biji
c) Mutu C : dalam 100 g biji terdapat 110 – 120 butir biji
n  Penyimpanan
Biji kakao yang telah kering dimasukkan ke dalam karung goni. Tiap goni diisi 60 kg biji cokelat kering, kemudian karung tersebut disimpan dalam gudang yang bersih, kering, dan memiliki lubang pergantian udara. Penyimpanan di gudang sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap 3 bulan harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang.
PEMASARAN
n  Sebagian besar produksi kakao Indonesia digunakan untuk keperluan ekspor dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Produk yang diekspor sebagian besar (78,5%) berupa produk primer, yakni dalam bentuk biji kering dan sebagian kecil (21,5%) berupa hasil olahan.
Agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks, antara lain rendahnya produktivitas kebun akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk, serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini merupakan suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor dalam mengembangkan usaha kakao. Salah satu peluang yang dimaksud adalah pasar Amerika Serikat menghendaki pembelian kakao dalam bentuk cocoa butter. Peluang ini harus dapat dilirik oleh industri dalam negeri sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk kakao Indonesia.
Areal pertanaman kakao saat ini sekitar 1.4 juta ha, tersebar di 31 provinsi. Sekitar 64% dari total areal tersebut terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Saat ini hanya sekitar 66% pertanaman pada kondisi tanaman menghasilkan. Dan dari segi bentuk pengusahaannya, sekitar 92,7% pertanaman kakao merupakan perkebunan rakyat, 3,9% perkebunan besar negara dan 3,4% merupakan perkebunan besar swasta. Pada tahun 2008 produksi kakao Indonesia sekitar 792 ribu ton. Diperkirakan pada tahun 2009 produksi kakao Indonesia akan mencapai sekitar 849 ribu ton.
Sekitar 52% produksi kakao Indonesia diekspor ke berbagai negara terutama ke Malaysia. Karena sudah semakin majunya industri hilir kakao Malaysia, sehingga membutuhkan biji kakao Indonesia sebagai bahan bakunya. Hal ini berarti nilai tambah kakao akan banyak dinikmati negara lain, terutama Malaysia.



PENUTUP
KESIMPULAN
Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan.Artinya tanaman ini memang sangat di anjurkan untuk lebih ditingkatkan lagi kualitasnya,Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.Oleh karena itu peran pestisida dalam bidang ini  sangat dibutuhkan agar kakao yang di budidayakan berkualitas dan bernilai tinggi di saat ingin di Agroindustrikan serta dipasarkan.



DAFTAR PUSAKA
n  © Copyright 2007 - Original Theme by : YGo Soo Simple | Bloggerized by : GosuBlogger | Free Blogger Templates
n  © Copyright 2010, Benidiktus Sihotang
n  © Copyright www.suaramedia.com .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar